Empat Mantan Teroris Yang Sudah Insaf Dan Kini Setia Pada NKRI

Empat Mantan Teroris Yang Sudah Insaf Dan Kini Setia Pada NKRI
Empat Mantan Teroris Yang Sudah Insaf Dan Kini Setia Pada NKRI

Geraiberita – Sekelompok teroris yang mengatasnamakan JAD (Jamaah Ansharut Daulah) dan JAT (Jamaah Ansharut Tauhid) menyerang beberapa tempat di Jawa Timur. Sebagai informasi JAD merupakan kelompok teroris yang berbasis di Indonesia yang dibentuk pada 2015 dan merupakan kelompok ekstremis Indonesia pengikut ISIS.

Tapi perlu diketahui, tak semua anggota teroris tetap ingin menjadi anggota teroris. Masih ada mantan anggota teroris yang memilih insaf dan berikrar untuk mencintai NKRI. Mereka juga menceritakan tentang kehidupan mereka saat menjadi seorang teroris. Inilah mereka:

1. Ali Fauzi Manzi
Merdeka.com – Ali penah menjadi kepala instruktur perakitan bom Jamaah Islamiyah (JI) Wakalah untuk wilayah Jawa Timur. Dia juga adik kandung Ali Imron, bomber bom Bali. Kini Ali mendirikan sebuah yayasan di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Lamongan. Yayasan bernama Lingkar Perdamaian ini akan mendidik anak-anak, janda, serta para istri yang suaminya masih dipenjara karena kasus terorisme.

Ali pernah bercerita saat melihat kondisi korban bom di JW Marriot di Irlandia. Dia mengaku hatinya terasa teriris-iris, hancur. “Ilmu (teror) yang saya banggakan, ternyata membuat orang susah,” katanya.

2. Umar Patek
Merdeka.com – Mantan bomber Bali 1, Umar Patek, mengaku berhenti menjadi teroris karena itu adalah tindakan pengecut. Menurutnya, pelaku bom melarikan diri dan meninggalkan bom begitu saja. Mereka tak mau menanggung resiko setelah meletakkan bom yang membahayakan orang tak bersalah. “Mereka pengecut karena lari dan tak berani bertanggung jawab atas perbuatannya,” ucap Umar.

Kini Umar terlihat menjadi petugas pembawa bendera pusaka saat Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2015 di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Sebelumnya, Umar bersama empat napi terorisme Poso dan Ambon, telah menyatakan kesetiaannya kepada NKRI. Proses penyadaran para napi terorisme ini adalah hasil dari sinergi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Kemenkumham, dalam hal ini Lapas Porong.

3. Ustaz Abdurrahman Ayyub
Merdeka.com – Sebelum Umar Patek mengikrarkan kesetiaannya pada Indonesia, Ustaz Abdurrahman Ayyub terlebih dahulu melakukan. Dia adalah alumni Majelis Terorisme Afganistan. Pernah menjabat sebagai Penasihat Gubernur IV Jemaah Islamiyah (JI) dari Australia.

Setelah keluar dari JI, Ayub bergabung dengan Lembaga Badan Nasional Penanggulangan Terorisme ( BNPT) sebagai pakar. Rekan-rekannya dari jaringan Jamaah Islamiyah masih saja sering melancarkan teror dan kecaman kepadanya dan keluarganya.

4. Nasir Abbas
Merdeka.com – Ia adalah guru dari Imam Samudra serta guru dari para teroris lainnya di Asia. Ia banyak menciptakan camp latihan bagi para pemuda. Kini membantu BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme).

Sebelum menjadi pribadi saat ini, Nasir pernah diajak Abu Bakar Baasyir bergabung dengan JI dan berlatih perang di Afghanistan saat berusia 18 tahun. Dia mengaku mendapat doktrin bahwa Indonesia telah menjajah Negara Islam Indonesia.

“Di Afghanistan sudah sejak lama melakukan pelatihan untuk mereka yang akan melakukan jihad. Ada pelatihan menggunakan senjata, meracik bom, dan pelatihan ala militer,” tutur Nasir.

Namun, seiring berjalannya waktu, ia justru menyadari apa yang ia lakukan salah. “Saya bingung bahwa kami disuruh berjihad. Namun, membunuh bangsa sendiri. Kami didoktrin untuk membunuh masyarakat sipil,” ujar Nasir.

Akhirnya Nasir memutuskan keluar dari Jamaah Islamiyah dan kembali menjadi orang biasa seperti halnya masyarakat lainnya.

Sumber : Merdeka

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*