Empat Tuntutan Buruh Yang Tidak Dapat Dikabulkan Oleh Pemerintah

Empat Tuntutan Buruh Yang Tidak Dapat Dikabulkan Oleh Pemerintah
Empat Tuntutan Buruh Yang Tidak Dapat Dikabulkan Oleh Pemerintah

Geraiberita – Selasa 1 Mei merupakan hari Buruh Internasional. Untuk memperingati, hari ini diperkirakan ribuan buruh akan membanjiri Ibu Kota untuk menggelar aksi unjuk rasa dengan berbagai tuntutan yang dilayangkan pada pemerintah.

Secara garis besar, para buruh menuntut upah layak dan kesejahteraan. Namun, ada beberapa catatan seperti tuntutan buruh pada tahun-tahun sebelumnya yang sulit dikabulkan pemerintah. Apa itu, berikut rangkumannya dari berbagai sumber:

1. Buruh minta uang pulsa masuk dalam hitungan upah
Merdeka.com – Setiap perayaan hari buruh dari tahun-tahun, para buruh menuntut memasukkan pulsa dalam komponen hidup layak (KHL). KHL merupakan acuan dalam penentuan upah minimum provinsi (UMP).

Namun dalam kenyataannya, keinginan para buruh ini tidak bisa direalisasikan. Karena dari jumlah KHL yang diajukan buruh dari 84 item termasuk pulsa tidak mendapat persetujuan sehingga jumlah KHL yang diajukan hanya 60 item.

2. Buruh wanita menuntut parfum
Merdeka.com – Buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) pernah menuntut parfum untuk masuk dalam komponen hidup layak (KHL). Buruh, khususnya buruh wanita menilai Parfum harus masuk hitungan karena telah menjadi kebutuhan pokok buruh. Selain itu, Parfum dinilai sebagai kebutuhan hidup yang bersifat kekinian.

3. TV dan koran
Merdeka.com – Pada aksi demo beberapa tahun lalu, buruh juga pernah meminta pemerintah untuk menyepakati penambahan jumlah komponen Kebutuhan Hidup Layak (KHL) seperti pembelian TV dan koran. Mereka beralasan penambahan ini merupakan bagian dari upah yang layak dituntut buruh.

4. Minta biaya rumah dan nonton bioskop
Merdeka.com – Tuntutan lain yang sulit dikabulkan adalah menuntut penambahan jumlah komponen Kebutuhan Hidup Layak (KHL) mulai dari biaya sewa rumah, kebutuhan karbohidrat, nonton biskop untuk buruh lajang, sampai konsumsi daging. Tentu saja tuntutan tersebut tidak bisa dipenuhi oleh pemerintah.

Sumber : Merdeka

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*