Menurut DPR Ali Mochtar Dalam KPS Hanya Pemborosan Anggaran

Menurut DPR Ali Mochtar Dalam KPS Hanya Pemborosan Anggaran
Menurut DPR Ali Mochtar Dalam KPS Hanya Pemborosan Anggaran

Geraiberita – Masuknya Ali Mochtar Ngabalin ke lingkaran dalam istana memang menjadi hak prerogatif Presiden. Meski sebenarnya, yang dibutuhkan oleh pemerintah sebenarnya adalah efektivitas dan efisiensi. Bukan penambahan jumlah personel.

“KSP (Kantor Staf Presiden) itu nyaris enggak ada kerjanya. Koordinasi antar kementerian sudah ada menteri koordinator. Soal teknis sudah ada Sekretariat Negara dan Sekretariat Kabinet. Selain itu, sudah ada juga staf khusus lain. Oleh karenanya, tidak ada kerjanya,” kata anggota Komisi II DPR, Yandri Susanto di Jakarta, Kamis (24/5).

“Apalagi Pak Jokowi bilang hemat angggaran dan kinerja. Tapi ini hak Pak Jokowi penuh. Kalau tahu ini buang anggaran, sudah ada fungsi lain, mungkin bisa,” kata politikus Partai Amanat Nasional itu.

Sebagai mitra kerja pemerintah yang membidangi pengawasan dalam negeri dan sekretariat negara, Yandri berpendapat bahwa anggaran KSP terbilang kecil.

“Tapi kalau untuk dibuang-buang kan sayang. Kalau mau bangun pesantren, sudah jadi berapa?” ujarnya.

Seingat Yandri, Presiden Jokowi kerap mengampanyekan efektivitas dan efisiensi. “Tapi kalau hari ini banyak angkat stafsus, saya kira ingkar janji sendiri,” katanya.

Sementara itu, pengamat politik Hendri B Satrio mengatakan, langkah Presiden Jokowi melalui KSP merekrut Ali Mochtar adalah untuk mendekati umat Islam dan Ulama. Terlebih, ngabalin adalah ulama yang cukup dikenal di masyarakat.

“Resep jitu yang dimiliki Ngabalin dan tidak dimiliki staf presiden lainnya, adalah ia seorang ulama dan sekaligus politisi, ini belum ada di staf lainnya,” ujarnya saat dihubungi wartawan, Kamis (24/5).

Dikatakan Hendri, seharusnya yang merasa tertampar adalah staf khusus lain yang selama ini tidak punya jurus jitu mendekati ulama dan umat islam yang masih oposisi.

“Sampai jokowi harus merekrut oposisi, ini memperlihatkan bahwa selama ini belum ada yang bisa punya jurus jitu menggandeng ulama dan umat Islam yang bersebrangan dengan Jokowi,” tuturnya.

Ia menambahkan, Ali Mochtar memang dulu sempat bersebrangan dan kerap mengkritik Jokowi. Namun kini ia berada di Golkar yang sudah menjadi pendukung pemerintah. “Saya kira yang oportunis itu bukan Ngabalin, dia kan di Golkar, jadi dia pasti ikut kebijakan Golkar. Kalau mau dibilang yang oportunis ya Partai Golkar itu sendiri, bukan Ngabalin secara individu,” tuturnya lagi.

Sumber : Merdeka.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*