Nilai Mata Uang Rupiah Semakin Tertekan Hingga Rp14.004

Nilai Mata Uang Rupiah Semakin Tertekan Hingga Rp14.004
Nilai Mata Uang Rupiah Semakin Tertekan Hingga Rp14.004

Geraiberita – Nilai tukar rupiah terus bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat alias USD. Pada perdagangan di pasar spot, Selasa (8/5/2018), mata uang NKRI dibuka melemah 3 poin atau 0,02% ke level Rp14.004, dibanding penutupan Senin yang tembus ke Rp14.001 per USD.

Laju rupiah terus tertekan di indeks Bloomberg pada pukul 10.24 WIB, yaitu bearish 41 poin atau 0,29% menjadi Rp14.042 per USD. Ini merupakan rekor terburuk rupiah sejak Desember 2015. Rupiah pun menjadi mata uang terburuk kedua di Asia terhadap USD pada pekan ini.

Hal sama juga terpantau di data Yahoo Finance, dimana rupiah pada pagi ini terpantau jeblok 42 poin atau 0,30% ke level Rp14.037 per USD, dibanding penutupan Senin lalu di Rp13.995 per USD.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah pada Selasa ini berada di Rp14.036, terdepresiasi 80 poin dari level Rp13.956 per USD di Senin kemarin.

Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi mengatakan, terperosoknya rupiah merupakan imbas dari kondisi makroekonomi Indonesia yang tidak sesuai harapan. Salah satunya, pertumbuhan ekonomi (produk domestik bruto/PDB) pada kuartal I/2018 yang hanya 5,06%. “PDB yang di bawah ekspektasi. Surveinya 5,19%,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Darmin Nasution menanggapi pelemahan rupiah yang menembus Rp14.000 per USD, jangan langsung dianggap aneh. “Ya memang tembus Rp14.000 per USD. Tapi tidak berarti akan bertahan di angka itu. BI akan melakukan langkah-langkah walaupun BI itu akan menunggu rapat RDG bulanan untuk mengambil kebijakan,” tandasnya pada Selasa (8/5/2018).

Adapun dolar AS melayang mendekati level tertinggi empat bulan pada hari ini, didukung meningkatnya imbal hasil Treasury dan data ekonomi AS yang sangat solid, meninggalkan rival utamanya euro.

Melansir Reuters, indeks USD terhadap sekeranjang mata uang utama, berada di 92,766, setelah semalam menyentuh level 92,974, level tertinggi sejak 28 Desember 2017. Greenback mendapat dorongan berkat data ketenagakerjaan yang menguat di era Trump, sehingga mendukung ekspektasi untuk kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve.

Sumber : Sindonews

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*